Showing posts with label Chapter 3 : Contemplating. Show all posts
Showing posts with label Chapter 3 : Contemplating. Show all posts

Monday, August 8, 2016

TETAP OPTIMIS MENYIKAPI KEGAGALAN

Oleh : Resna Natamihardja 

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu.  Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Q.S. Al Hadid : 23)


     Pernahkan mengalami sebuah kegagalan tapi di kemudian hari kita mendapatkan 'pengganti' yang jauh lebih baik dari apa yang tidak kita dapatkan?  Saya sering...

     Saya punya sebuah cerita dari pengalaman pribadi.  Dua belas tahun silam saya dan teman saya sama - sama mengajukan lamaran kerja ke sebuah perusahaan yang terdapat di kota saya.  Setelah tes pertama yang terdiri dari tes pengetahuan umum dan tes potensi akademik, saya mendapat informasi bahwa nilai saya paling tinggi dari semua pelamar.  Tapi setelah melalui tahap wawancara dengan beberapa orang, ternyata teman saya yang mendapatkan posisi yang diperebutkan tersebut.  Mungkin karena teman ini memiliki karakter yang lebih supel dan komunikatif hingga cocok dengan posisi yang dibutuhkan.  Sesaat saya sempat kecewa bahkan menyalahkan diri dan keadaan karena kegagalan itu.

     Ternyata beberapa bulan kemudian datang kesempatan lain.  Saya mengikuti tes untuk pekerjaan saya sekarang.  Dan tanpa disangka dalam proses rekrutmen yang sebelumnya banyak diberitakan banyak praktek kotornya, saya lolos tanpa harus menempuh cara - cara curang yang merugikan orang lain.  Saya baru memahami mungkin ini rencanaNya untuk saya.  Karena di kemudian hari baru diketahui bahwa perusahaan tempat saya melamar dulu biasanya mempersulit karyawan yang akan mengikuti tes seperti yang baru saja ditempuh.

     Beberapa tahun sesudah saya bekerja, perusahaan tempat teman bekerja mengalami kemunduran sehingga melakukan rasionalisasi dengan mengurangi jumlah pekerjanya.  Sekarang teman saya menjadi full time housewife.

     Dari sisi kemandirian finansial mungkin saya lebih beruntung dari teman tersebut untuk saat ini.  Tapi kita tidak pernah bisa menilai sesuatu itu keberuntungan atau bukan hanya dengan melihat satu sisi atau hanya saat ini.  Karena dia sekarang memiliki waktu yang banyak untuk bisa mendampingi dan membimbing anak - anaknya dengan lebih leluasa.  Seperti peringatan Alloh Swt dalam Surah Al Hadid ayat 23 yang saya tulis di awal, Alloh swt tidak menyukai orang yang sombong lagi mebanggakan diri, saya hanya bisa berlindung padaNya dari segala keburukan yang mungkin terjadi dari apa yang saya jalani saat ini.

     Itu hanya satu kejadian, banyak kejadian yang lain yang karena sudah berlalu saya lupa detail ceritanya.

     Pada saat mengalami kegagalan, kita akan merasa sedih, kecewa bahkan kadang merasa semua pintu sudah tertutup.  Kita bahkan kadang iri dan memandang sinis keberuntungan yang didapat orang lain.  Kita lantas menyalahkan keadaan, merasa bahwa kesalahan orang lain menyebabkan kekurangan kita.

     Sebenarnya jika kita mau menghadapi kegagalan dengan kepala dingin, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dalam sebuah kegagalan.  Bisa jadi hikmah atau makna dari kegagalan itu yang mebuat kita lebih bijak menyikapi kehidupan atau menjadi belajar tentang cara atau strategi baru untuk mencoba lagi hingga mengubah kegagalan menjadi keberuntungan di kemudian hari.

     Q.S Al Hadid ayat 23 yang saya cantumkan di atas merupakan salah satu rujukan tentang bagaimana menyikapi kegagalan menurut Islam.

      Jadi bagaimana sebaiknya mengatasi kegagalan yang kita alami?

     Cara menyikapi kegagalan dimulai dengan mengidentifikasi faktor yang ada di dalam kendali (internal) dan faktor di luar kendali (eksternal) kita.  Adapaun pilihan langkah untuk mengatasi kegagalan adalah :
Pertama, jika faktor yang ada di dalam kendali (internal) yang menjadi penyebabnya maka kita bisa mengubah strategi dengan segala alternatif cara yang mungkin bisa diambil untuk mencapai tujuan.
Kedua, jika faktor di luar kendali (eksternal) yang menjadi penyebab kegagalan maka amati dinamika faktor luar ini, jika terjadi perubahan dalam faktor luar maka kita bisa mencoba lagi, bahkan dengan strategi yang sama dengan strategi awal.
Ketiga, kendati tidak ada lagi faktor internal yang bisa diubah atau tidak terlihat perubahan pada faktor eksternal namun kita masih memiliki semangat dan optimisme maka teruslah mencoba.  Saya pernah bertemu seorang kenalan yang lolos pada rekrutmen yang sama setelah menempuh sepuluh kali tes dan selalu gagal namun dia masih tetap bisa mempertahankan motivasinya untuk lolos, tanpa dia ketahui pada tes kesebelas terdapat dinamika pada faktor eksternal yakni adanya komitmen pelaksanaan tes yang 'bersih' dari pihak penyelenggara sehingga akhirnya lolos.  Kadang kita tidak memiliki  informasi yang sempurna tentang apa yang kita hadapi, maka jika kita masih bisa mempertahankan optimisme, teruslah berusaha, mudah - mudahan Yang Maha Kuasa menuntun kita pada keberhasilan.
Keempat, jika tak ada lagi semangat dan optimisme yang tersisa maka kita bisa berhenti sejenak untuk mengevaluasi apakah akan dilanjutkan atau tidak.
Kelima, seandainya setelah rehat untuk mengevaluasi diri dan keadaan merasa sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan, mungkin waktunya kita mencoba memaknai kegagalan dengan mengambil hikmah dibalik kegagalan tersebut dan meyakini bahwa Yang Maha Kuasa punya rencana lain yang jauh lebih indah untuk kita.  Mungkin sudah waktunya kita menetapkan target atau tujuan baru yang berbeda dari tujuan sebelumnya.

     Satu hal yang harus diyakini bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurutNya.  Dan selalu yakinlah bahwa Alloh Swt akan memberikan yang terbaik untuk kita pada waktunya selama kita memaksimalkan ikhtiar dan tak putus berdo'a.

Tuesday, July 26, 2016

HARI ANAK NASIONAL : KONVENSI HAK ANAK DAN EMANSIPASI PEREMPUAN

Oleh : Resna Natamihardja

     Belasan tahun silam saya pernah mengirimkan pendapat untuk sebuah rubrik opini di halaman khusus anak muda di sebuah surat kabar cetak nasional.  Sebuah opini dalam rangka menyambut hari anak nasional pada tahun tersebut.  Karena waktu itu baru merampungkan pendidikan dan belum menikah, yang disoroti adalah tentang pemenuhan hak anak, kekerasan pada anak dan hal - hal tentang anak yang menjadi wacana pada waktu itu.  Sekarang saya adalah seorang ibu yang sedang mencoba berkompromi dengan keadaan.  Saya melihat sebuah paradoks ketika bicara tentang hak anak dan emansipasi wanita.

     Secara garis besar hak anak yang tercantum dalam konvensi tentang hak anak yang disepakati oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa pada tanggal 20 Nopember 1989 bisa dikelompokkan kedalam empat kategori sebagai berikut :

Add caption
Pertama, hak untuk tumbuh dan berkembang
Yang termasuk di dalamnya adalah hak untuk mendapatkan makanan yang layak (bergizi baik), perumahan, air bersih, pendidikan formal, pelayanan kesehatan, waktu senggang untuk bersenang senang dan rekreasi, kegiatan kebudayaan dan informasi tentang hak - hak mereka.

Kedua, hak untuk mendapat perlindungan
Hak ini termasuk perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan pada anak, pengabaian, eksploitasi dan kekejaman.

Ketiga, hak untuk berpartisipasi
Setiap anak berhak mengungkapkan pendapatnya dalam hal - hal yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, keagamaan, kebudayaan dan  politik mereka.  Hak untuk berpartisipasi juga termasuk hak untuk mengungkapkan pendapat dan hak untuk didengarkan, hak untuk mendapatkan informasi dan kemerdekaan berkumpul.


Dan keempat, hak hak lain sebagaimana hak asasi manusia pada umumnya.

     Selain kewajiban pemerintah untuk menyediakan dukungan untuk terpenuhinya hak - hak tersebut, orang tua dan anak harus saling menghargai satu sama lain, pengertian setiap anak akan berbeda tergantung usia dan setiap orang tua harus menyesuaikan diri dengan usia dan kedewasaan anak.    

    Catatan ini berawal dari  kegelisahan seorang ibu yang seringkali tidak bisa hadir dalam saat - saat penting dalam hidup anaknya.  Seorang ibu yang harus mendengar dan melihat sorot kecewa dari mata anaknya karena kerap tidak bisa memenuhi harapan akan kehadiran dirinya dalam momen - momen istimewa anaknya.

     Tulisan ini tidak ditujukan untuk ibu - ibu yang terpaksa harus menjalankan fungsi ganda sebagai ibu rumah tangga dan wanita bekerja karena pertimbangan kondisi ekonomi keluarga, karena mungkin hanya akan menambah beban fikiran mereka.  Tulisan ini ditujukan untuk ibu - ibu yang berada diambang dilema antara memilih karier atau rumah tangga.  Ibu - ibu yang masih memiliki kesempatan untuk memilih yang lebih baik untuk putra - putrinya.  Dan mengajak ibu - ibu yang merasa telah menempuh pendidikan tinggi namun tidak memiliki kesempatan untuk berada dalam dunia kerja untuk bersyukur atas kesempatan penuh untuk mendampingi putra - putri mereka.  Atau jika ada kesempatan untuk bekerja di rumah dengan waktu yang fleksibel akan lebih baik.

     Emansipasi perempuan dalam bidang pendidikan sebelum mereka memasuki dunia rumah tangga mungkin adalah hal yang sangat positif.  Karena dengan pendidikan yang lebih baik akan meningkatkan kualifikasi perempuan ketika akan menjadi istri atau ibu.  Pendidikan ini bisa mencakup pendidikan  formal atau non formal, pendidikan bisa meningkatkan kualitas wanita ketika menjalankan perannya sebagai ibu atau istri.  Namun tingkat pendidikan yang lebih baik biasanya akan memberikan kesempatan lebih luas pada wanita untuk berperan serta dalam kegiatan di luar rumah.  Inilah yang akan menjadi kontradiksi, karena ibu rumah tangga yang memilih untuk ikut mengambil bagian dalam tanggung jawab ekonomi keluarga (baik karena keterpaksaan atau keinginan sendiri) akan menyerahkan pengasuhan anak mereka pada orang lain.

     Mungkin masih belum lepas dari ingatan kasus kekerasan pada anak oleh penjaga anak (babysitter) yang terekam CCTV yang kemudian menjadi viral dan banyak diekspos media massa.  Itu hanya satu contoh bagaimana peran pengganti melakukan sesuatu yang buruk dalam pengasuhan karena seorang ibu tidak hadir dalam keseharian anak.

      Saya tidak mengatakan semua penjaga anak buruk seperti dalam ilustrasi di atas, karena saya pernah mendengar juga cerita tentang seorang penjaga anak yang baik.  Namun saya yakin kehadiran seorang ibu akan sangat berbeda maknanya dalam bathin seorang anak dibandingkan seorang penjaga anak manapun.

     Seiring dengan meningkatnya pendidikan seorang perempuan maka akan bertambah pula pengalaman dan pemahaman tentang segala sesuatu dalam kehidupan.  Beragam hal yang terjadi di sekitar selama menempuh pendidikan akan memperkaya wawasan seseorang.  

     Kebanyakan penjaga anak yang menggantikan peran seorang ibu bekerja berpendidikan lebih rendah dibanding ibu yang digantikannya.  Tentu saja apa yang bisa sampai kepada anak dari seorang ibu yang berpendidikan lebih tinggi akan berbeda dari seorang penjaga anak.  Mungkin akan menjadi perdebatan ketika masuk argumen bahwa ibu bekerja bisa memberikan fasilitas pendidikan berkualitas baik untuk untuk putra - putrinya.  Tapi pendidikan formal sebaik apapun selain cenderung lebih menekankan aspek kecerdasan intelektual biasanya tetap menyarankan pendampingan dari orang tua di luar jam sekolah.

     Jika memang seorang ibu harus terpaksa bekerja di luar rumah dengan jam kerja yang mengikat, pastikan bahwa penjagaan anak di rumah setidaknya di bawah supervisi orang terdekat yang dapat dipercaya (anggota keluarga terdekat).  Hal ini untuk mengurangi kemungkinan pelanggaran hak anak yang termasuk dalam kategori hak untuk mendapat perlindungan.
     
     Tingkat ketegangan dan tekanan setiap pekerjaan mungkin berbeda namun hampir dipastikan bahwa seorang ibu bekerja pasti terikat pada kontrak waktu yang harus dipenuhinya.  Waktu untuk ibu menyampaikan apa yang diketahui dan dipahami kepada anaknya tentu akan banyak berkurang.  Dan besar kemungkinan kehilangan momen "menyampaikan pada saat yang tepat" karena waktu bekerja seorang ibu biasanya juga waktu beraktivitas seorang anak.

     Saya yakin seorang ibu bekerja pasti mengalami saat - saat dimana anaknya menangis karena tak ingin ditinggal atau bahkan pernah mendengar permohonan secara langsung dari anaknya untuk menunggunya di rumahdan tidak perlu bekerja.  Ini adalah pendapat seorang anak.  Dan sesuai dengan konvensi tentang hak anak yang telah diratifikasi oleh negara kita, pendapat anak harus didengarkan.  Jika ibu memiliki kesempatan dan tidak memiliki alasan keterpaksaan untuk  bekerja rasanya akan jauh lebih baik jika hak anak untuk didengarkan pendapatnya dipenuhi.

Monday, July 4, 2016

KEBUTUHAN BUKAN KEINGINAN

Oleh  :  Resna Natamihardja

     Semula catatan ini ingin saya beri judul dengan kalimat awal " KATA BAPAK SAYA ", seperti ungkapan yang terkenal melalui sebuah sinetron komedi yang ditayangkan di sebuah televisi swasta pada setiap sore hari.  Tapi karena catatan ini saya masukkan dalam chapter kontemplasi, akhirnya ungkapan itu tidak jadi saya rangkaikan dalam kalimat awal judul tulisan ini.

     Melihat jalanan sepanjang pusat pertokoan di kota saya macet, penuh dengan kendaraan dan orang yang berlalu lalang, saya malah teringat ucapan almarhum ayah saya belasan tahun silam.

    Setiap menjelang lebaran, setiap karyawan pasti akan mendapatkan Tunjangan Hari Raya.  Biasanya jumlahnya adalah satu kali gaji bulanan untuk karyawan swasta.  Dan tahun ini mengkonversi tradisi kenaikan gaji yang biasa dilakukan pemimpin sebelumnya,  Pegawai Negeri Sipil pun mendapatkan gaji ke 14 sebesar satu kali gaji pokok sebagai Tunjangan Hari Raya.

     Alhasil penuhlan pusat perbelanjaan dengan orang - orang yang ingin membeli barang - barang untuk 'menyambut' lebaran di penghujung bulan ramadhan ini.

     Ayah saya sudah berpulang lebih dari delapan tahun silam.  Seingat saya nasihat ini belaiu sampaikan ketika pertama kali saya mulai bekerja selepas menuntaskan pendidikan sekitar enam belas tahun silam.  Waktu itu saya belajar bekerja di sebuah pusat perbelanjaan dan menjelang lebaran saya mendapatkan THR.

     Saya tanyakan ayah ibu saya ingin dibelikan apa untuk 'hadiah' lebaran.  Ibu waktu itu menjawab mukena, sedangkan ayah memberikan jawaban tak terduga yang sampai saat ini membuat saya kerap menitikan air mata jika mengingatnya.  Saat itu ayah saya kurang lebih menjawab begini jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, " Terima kasih Teteh sudah punya niat ingin memberikan hadiah buat Bapak...Bapak tak ingin dibelikan apa - apa...Sekarang Teteh bisa memenuhi kebutuhan sendiri nilaianya bagi Bapak sudah sama  dengan memberi buat Bapak....Belikan saja untuk kebutuhan Teteh...Tapi ingat jangan membeli mengikuti hawa nafsu, jangan cuma mengikuti keinginan...Pikirkan baik - baik benarkah itu yang kita butuhkan."

     " Tak perlu belajar untuk menghabiskan uang, pasti bisa dengan sendirinya...yang harus dipelajari itu mengendalikan diri untuk tidak selalu mengikuti keinginan.  Membeli itu dasarnya kebutuhan bukan keinginan."

     Ayah saya mememang mengajari anak - anaknya sejak kecil untuk hidup hemat.  Kami anak - anaknya diajari punya tabungan sejak dini.  Tapi kali ini yang saya gunakan bukan lagi uang dari ayah saya, tapi hasil kerja saya.  Di saat yang tepat ayah saya memberikan nasihatnya.  Alhamdulillah  nasihat itu masih kerap mampu menuntun saya dalam bersikap terutama dalam menentukan prioritas dalam membeli barang konsumsi.

     Tahun ini, setelah menyisihkan dua setengah persen untuk zakat penghasilan, barulah saya mempertimbangkan barang - barang apa yang akan saya beli untuk diri sendiri dan keluarga maupun beragam bingkisan (baik yang berkategori sedekah maupun hadiah) untuk orang - orang di sekitar saya.

Wednesday, November 17, 2010

MEMAKNAI KESEDERHANAAN : SEDERHANA ITU MULIA

Oleh : Resna Natamihardja

     Tak mudah menjalankan hidup sederhana di masa sekarang ini.  Di tengah gempuran beragam strategi pemasaran produk yang menjadikan kita 'sasaran tembak'.  Bahkan ada orang yang lebih menilai apa yang kasat mata ketimbang meresapi makna dibalik apa yang terlihat. Saya ingat, cerita seorang teman tentang pengalaman parkir di sebuah pusat perbelanjaan, bahwa ketika dia memarkir sebuah kendaraan berkategori mobil mewah (yang sebenarnya bukan miliknya) sikap juru parkir begitu santun.  Tak sama dengan waktu dia memarkir motor bututnya.

 
     Rasanya sulit menemukan orang di sekitar saya yang 'memilih' hidup sederhana.  Jika pun saya menemukan orang yang sederhana, sepertinya mereka menjalani karena tak ada pilihan lain. Kekurangan yang membuat mereka hidup sederhana.

     Bahkan ada yang menganggap orang yang memilih penampilan sederhana sebagai orang yang berupaya manipulatif.  Beberapa tahun lalu saya sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta milik perorangan yang pemiliknya pergi ke kantor dengan dandanan 'secukupnya' dan menaiki kendaraan yang 'biasa-biasa saja'.  Dan seorang teman malah berpendapat itu hanya salah satu upaya meredam gejolak karyawan yang  berupaya meningkatkan kesejahteraan (lebih dianggap salah satu trik licik majikan agar bisa tetap membayar murah pekerjanya).  Sebuah prasangka........


     Tak salah memang memilih menjalani hidup dengan 'kenyamanan' atau dengan penampilan yang membuat kita dihargai orang.  Tapi rasanya kita juga harus berhitung dengan kemampuan finansial kita. Berapa banyak orang terjerat leasing, terbelit tagihan kartu kredit atau bentuk-bentuk kredit konsumsi lainnya.  Yang semuanya dipergunakan untuk menciptakan kesan tentang dirinya.  Bukanlah sebuah kesalahan berusaha menciptakan kenyamanan hidup atau menjaga penampilan, mengelola kesan terhadap diri, tapi jika itu dilakukan tanpa perhitungan atas kemampuan finansial, bukankan ujung-ujungnya justru menyusahkan diri sendiri ? Tanpa sadar kita telah dibuat pontang-panting hanya demi mengejar penilaian orang lain.
 
     Mungkin orang lupa betapa menjalani hidup sederhana adalah salah satu bentuk keluhuran budi, upaya menenggang rasa, mengurangi kecemburuan sosial dari orang-orang yang kehidupannya kurang beruntung.  Lupa bahwa hidup sederhana adalah bukti tingkat pengendalian diri yang baik.  Orang yang memilih hidup sederhana dan konsisten dengan pilihannya adalah orang yang berhasil mengendalikan hasratnya, mengalahkan hawa nafsunya.  Salah satunya nafsu untuk mengejar penilaian orang lain.

      Mungkin ada yang ragu untuk hidup sederhana karena kekhawatiran akan mengurangi penghargaan dari orang lain.  Mungkin tidak terpikir, jika mereka menghargai kita karena apa yang kita miliki atau apa yang kita kenakan, berarti sesungguhnya mereka bukan menghargai kita tapi menghargai benda-benda tersebut.  (Hmm...jadi ingat cerita Nasrudin Hoja yang 'menyuapi' bajunya di sebuah resepsi, karena dia menyadari sang empunya hajat rupanya menyikapinya secara berbeda berdasar penampilannya, ketika datang dengan penampilan seadanya, tuan rumah tidak menyambutnya dengan penghargaan yang sama dengan ketika ia datang dengan pakaian bagusnya....)

     Lebih jauh, tak mudah untuk tetap konsisten menjalani hidup sederhana ditengah beragam tantangan di sekeliling kita.  Di tengah mulai orang-orang yang lupa bahwa ada kemuliaan di balik hidup sederhana.






Wednesday, November 3, 2010

KETIKA PERCAKAPAN MENGAMBIL KEBAIKAN YANG KITA PUNYA

Oleh : Resna Natamihardja

     Beberapa hari yang lalu, seorang teman 'membagi' kegundahan hatinya pada saya, " aku sering bingung kalau lagi kumpul-kumpul sama ibu-ibu di kantor.."

     Teman saya yang notabene juga ibu-ibu juga lalu bercerita, " kalau mereka lagi pada ngumpul begitu, diantara topik yang paling sering mereka bicarakan adalah orang lain, terutama kekurangan orang lain, kesalahan orang lain. Sementara sebagian hatiku sering 'menolak' pembicaraan itu karena rasanya tak sesuai dengan nilai-nilai yang kumiliki.  Orangtua, guru dari kecil mengajariku bahwa ghibah itu dosa, bahkan dikatakan dosa orang yang kita ceritakan itu akan berpindah pada orang yang menceritakan dan amal kebaikan kita akan menjadi miliknya."

     Setelah menarik nafas, dia melanjutkan ceritanya, " Kadang aku sampai heran, mereka kelihatan kompak dan akrab, tapi satu sama lain saling membicarakan.  seperti tak ada rasa bersalah memburuk-burukkan teman mereka sendiri."

     Selama kita hidup, hampir dipastikan kita akan selalu mengalami saat saat kebersamaan dengan orang lain yang mengharuskan kita menjalin konversasi dengan orang (atau orang-orang tersebut).  Bukan masalah jika kita memiliki banyak alternatif topik yang bisa kita jadikan materi pembicaraan dengan orang (atau orang-orang tersebut).

     Masalah adalah jika salah satu pihak dari pelaku percakapan itu memiliki keterbatasan wawasan.  Entah orang yang kita ajak bicara atau bahkan kita sendiri yang memiliki keterbatasan wawasan semacam itu.  Jika kita sama-sama ingin tetap meneruskan kesenangan menikmati moment kebersamaan itu, maka alternatif topik yang muncul adalah membicarakan orang lain, entah sisi buruk atau sisi baik seseorang.  Mungkin tak menjadi masalah untuk sebagian orang lain, tapi menjadi masalah untuk orang seperti sahabat saya. Dia punya nilai - nilai yang ditanamkan lingkungannya yang membuat dia merasa tidak nyaman, merasa bersalah berada dalam situasi tersebut, sementara di sisi lain dia juga memiliki kebutuhan untuk diakui oleh rekan - rekannya.

     Pikiran saya semakin tergelitik, jika teman - teman kantornya memang memiliki keterbatasan wawasan, mengapa pilihannya bukan bercerita tentang kebaikan orang lain.  Mengapa mereka harus bercerita tentang keburukan sesamanya sendiri?

     Saya cuma bisa menduga-duga motif mereka, mungkin diam -diam mereka ingin kelihatan lebih baik dari orang yang mereka jelek-jelekkan? Ah, jadi berprasangka... ( Perlahan dalam fikiran saya, orang yang suka bercerita tentang sisi buruk atau kekurangan orang lain jadi nampak sebagai orang bodoh yang berhati jahat. )

     Menurut saya, sahabat saya memiliki wawasan yang cukup luas, dia termasuk seorang pencinta buku.  Saya fikir dia bisa mengalihkan obyek pembicaraan dari sesuatu yang meresahkan hatinya ke hal - hal yang menenangkan hatinya.  Tapi apakah teman-teman kantornya punya wawasan atau ketertarikan yang sama? belum tentu juga. 


     Dan tiba-tiba terfikir oleh saya, jangan-jangan diantara yang sudah saya tulis juga ada yang termasuk kategori menjelek-jelekkan orang lain.  Mudah-mudahan tidak.....