Showing posts with label Chapter 5 : Others. Show all posts
Showing posts with label Chapter 5 : Others. Show all posts

Sunday, October 9, 2016

MEMBUAT MAKANAN BAYI HOMEMADE

Oleh : Resna Natamihardja

     Melanjutkan catatan tentang jenis - jenis bahan pangan untuk makanan bayi berdasarkan umur, kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman membuat makanan bayi sendiri.  

     Untuk yang ingin mengetahui bahan pangan untuk makanan bayi sesuai usia yang saya pergunakan silakan baca  BAHAN PANGAN UNTUK MEMBUAT MAKANAN BAYI

     Di catatan ini saya tidak akan menuliskan secara mendetail resep makanan bayi homemade tapi catatan tentang cara pembuatan  makanan bayi homemade yang saya lakukan dulu.

     Saya memulai pengenalan makanan padat untuk bayi di usia enam bulan.  Mulai dengan bubur halus yang sangat cair berbahan beras putih organik.  Saya tidak menggunakan tepung sebagai bahan dasarnya melainkan beras utuh.

     Saya mengawali dengan dua sendok beras untuk 3 kali makan ditambah air (saya lupa takaran persisnya), diletakkan dalam mug stainless steel tertutup, dimasak dalam panci yang berisi air.  Ada sedikit cerita, pernah sekali waktu, saya memasukkan air perebus terlalu banyak sehingga bubur yang ada dalam stainless steel terbalik dan tumpah dalam panci sehingga pembuatannya diulang.

     Dua minggu saya coba mengenalkan bubur bayi berbahan beras dengan tekstur sangat halus dan cair yang dimasak dengan cara ditim dan dihaluskan dengan blender.  Saya mempersiapkan blender untuk makanan bayi dengan membeli blender yang tabungnya terbuat dari kaca, ditempeli stiker food grade  dan tidak dipergunakan untuk makanan lain.  Setelah lewat dua minggu, saya ingin menambahkan dengan sayuran dan terjadilah 'kisah sedih' yang saya pernah ceritakan hehe... saya mulai dengan sekuntum brokoli (kurang lebih sesendok makan) dan itu menyebabkan perut putri saya kembung.  Akhirnya saya mundur kembali ke bubur beras halus selama dua hari sambil browsing mencari bahan makanan untuk bayi sesuai tahapan usia.

 Setelah menemukan chart pemberian makanan untuk bayi sesuai umur di wholesomebabyfood.momtastic.com akhirnya saya memperbaiki kekeliruan dan memulai pengenalan sayuran dengan wortel dengan jumlah awal yang lebih sedikit terlebih dahulu (hanya satu sendok teh parutan wortel) dan ditambahkan secara bertahap.  Wortel tidak membuat kembung namun membuat pup bayi menjadi agak keras.

     Lazimnya bubur bayi memang menggunakan wortel, namun tertarik dengan penjelasan salah satu artikel di wholesomebabyfood.momtastic.com yang mengatakan bahwa sweet potatoes (ubi jalar yang disana ditunjukkan dalam gambarnya yang berwarna merah) adalah makanan yang sangat baik untuk bayi.  Saya memasukkannnya sebagai substitut wortel.  Ibu saya mengatakan bahwa makanan bayi jarang dipergunakan untuk makanan bayi karena alasan tertentu.  Tapi ketika saya memberikan ubi merah untuk putri saya (dengan takaran yang sama dengan wortel) tak ada masalah yang terjadi pada putri saya.  Hanya saja warning dari ibu membuat saya tidak terlalu sering memberikan ubi jalar untuk putri saya.

     Saya punya cerita unik tentang wortel dan keponakan saya.  Dulu jari tangan dan jari kaki keponakan sempat menguning hingga membuat kami semua sangat khawatir dia sakit meski dia kelihatan baik - baik saja.  Ketika orangtua nya membawa ke dokter, dokter mendiagnosa itu karena konsumsi wortel berlebih dan dokter menyuruh menghentikan dulu penambahan wortel dalam makanan keponakan saya.  Dan ternyata diagnosa dokter bebar, jari -jari keponakan menguning karena konsumsi wortel berlebih, setelah dihentikan sementara waktu kondisi tangan dan kaki keponakan saya berangsur pulih seperti semula.  Mungkin lebih tepatnya karena konsumsi beta karoten berlebih ya...

     Banyak ibu bekerja memilih menggunakan makanan bayi buatan pabrik dalam pengenalan makanan padat untuk putra - putrinya dengan alasan kepraktisan.  Tapi sebenarnya selain bisa memilih bahan sesuai keinginan, pembuatan makanan bayi tidak serumit yang diduga.

       Untuk membuat bubur, beras dan air ditim kurang lebih 45 menit, angkat, dinginkan, haluskan dengan blender dan panaskan kembali kurang lebih 15 menit.  

      Jika ke dalam bubur akan ditambahkan kaldu dan protein hewani, buatlah kaldu dengan cara merebus daging ayam atau ikan dalam air dengan api sangat kecil, rebus sampai daging ayam atau ikan matang.  Untuk menyiasati waktu, saya biasanya membuat kaldu di akhir pekan kemudian dikemas untuk satu kali memasak.  Saya biasa menyimpan dalam plastik beberapa sendok kaldu dan sepotong daging ayam atau ikan (saya mengawali dengan 50 gram untuk 3 kali makan).

     Sehingga protein apapun yang dipergunakan dalam pembuatan makanan bayi biasanya dimasukkan bersamaan dengan sayuran.  Beras ditim terlebih dahulu selama 30 menit, kemudian masukkan daging ayam atau ikan matang bersama kaldunya dan sayuran selama 15 menit, angkat, diamkan sampai dingin, lalu haluskan dengan blender sesuai kehalusan yang diinginkan dan panaskan kembali selama 15 menit.  Dan setiap akan disajikan dihangatkan terlebih dahulu.

     Volume pemberian makanan padat akan bertambah seiring bertambahnya usia bayi.  Makanan padat di awal semester kedua ini akan menjembatani bayi hingga menjadi anak yang siap makan dengan 'makanan keluarga'.

   Awalnya bubur bayi yang saya buat bertekstur sangat halus dan cair.  Perlahan saya tambah kekentalannya.  Kemudian tingkat kehalusannya dikurangi seiring kesiapan bayi hingga akhirnya tim bayi dibuat dengan beras utuh dengan tambahan cincangan halus sayuran dan protein hewani.  Selanjutnya bertahap mulai dipisahkan nasi tim dengan sayurnya.  Sayur ini awalnya dibuat dengan potongan halus. dan bertahap cincangan sayurnya dibuat lebih besar.

     Jika terlibat dari awal dalam pembuatan makanan bayi, kita akan bisa membuat makanan bayi dengan volume yang tepat, meningkat seiring usia bayi.  Saya sendiri tidak terlalu berpatokan pada resep makanan bayi yang banyak ditulis.  Saya paling nyontek campuran bahannya saja.

     Setiap anak dalah unik.  Ada beberapa anak yang sudah siap dengan tim beras utuh di usia satu tahun.  Tapi saya mendengar cerita beberapa teman yang anaknya sudah berusia hampir satu setengah tahun masih harus makan dengan tim lunak itupun masih harus diblender hingga setengah hancur.  

     Tapi sebagai ilustrasi saya dulu biasanya membuat tim bayi dengan bahan seperti ini:

Beras Merah
Tepung Kacang Kedelai
Brokoli
Kaldu dan daging ikan gurame

atau seperti ini :

Beras Putih
Tepung Kacang Hijau (Mung Bean)
Wortel
Kaldu dan daging ayam

     Saya sangat merekomendasikan para ibu untuk memberikan makanan bayi buatan sendiri di rumah.  Makanan bayi rumahan berdasar pengalaman saya memudahkan kita memberikan makanan sehat di usia selanjutnya untuk putra - putri kita.  Dulu sebelum usia dua tahun, sangat mudah bagi saya memberikan sayuran atau buah apapun untuk putri saya, sekarang setelah umurnya lima tahun dan dia mulai mengenal banyak makanan 'enak' saya kadang agak kesulitan mengenalkan makanan terutama makanan baru untuknya.  Yah, tergantung 'kebijakan' ibu - ibu untuk menjejalkan makanan baru yang dianggap bagus untuk tumbuh kembang anak.  Dengan bujukan, reward atau penjelasan tentang akibat jika tidak makan dengan gizi seimbang.

     Tapi seringnya penolakan ini terjadi hanya pada saat awal pengenalan sebelum mencoba, setelah dicoba kadang putri saya malah jadi suka sekali.  Jadi kesulitannya malah pada saat membuatnya mau mencoba mencicipi.

     Mungkin lebih bagus jika sebanyak mungkin sayur dan buah dikenalkan sebelum usia dua tahun.  Saya punya cerita yang mungkin akan terdengar 'aneh' untuk ibu - ibu lain.  Putri saya baru dikenalkan dengan anggur setelah umur 2 tahun.  Dan karena tidak biasa, awalnya dia menolak makan anggur (import) yang mungkin menjadi kesukaan anak lain.  Kekhawatiran saya yang berlebihan tentang 'handle' buah import membuat anak saya sampai sekarang kurang suka anggur (padahal buah lokal juga jarang yang pesticide free ya?heu...) 

Thursday, October 6, 2016

BAHAN PANGAN UNTUK MEMBUAT MAKANAN BAYI

Oleh : Resna Natamihardja

     Suatu hari seorang teman yang memiliki putra yang masih bayi bertanya bagaimana saya pertama kali mengenalkan makanan padat pada putri saya.  Dan dengan yakin saya menjawab bahwa sampai usia tigabelas bulan putri saya setiap hari hanya mendapatkan makanan padat secara bertahap mulai dari bubur cair hingga nasi tim buatan sendiri di rumah.

     Makanan bayi yang saya buat berbahan makanan organik dan tanpa rasa.  Karena putri saya adalah anak pertama (dan sepertinya hanya akan menjadi satu - satunya putri saya hehe...) saya waktu itu belum punya pengetahuan cukup sehingga di awal pemberian makanan bayi (umur enam bulan) saya pernah melakukan kesalahan, setelah dua minggu memberikan bubur halus dan encer berbahan beras putih, saya memasukkan sekuntum brokoli yang diblender bersama bubur beras halus encer tersebut.  Alhasil perut putri saya langsung kembung (duh, maafkan mama ya nak...)

     Dari kesalahan itu saya mulai browsing mencari bahan pangan untuk makanan bayi yang pas untuk usianya.  Saya menemukan salah satu artikel di wholesomebabyfood.momtastic.com yang berisi chart makanan sesuai usia bayi.
 

     Bahan makanan yang tercantum di sana banyak yang asing untuk saya.  Tapi beberapa bukan makanan yang asing di Indonesia, dan saya pun hanya memilih yang mudah di dapat di sekitar tempat tinggal saya saja.

     Berikut bahan pangan yang saya pernah gunakan dalam pembuatan makanan bayi padat untuk putri saya berdasar tahap usia nya.

1.  Bulan ke enam sampai dengan delapan (6,7,8 bulan)
Putri saya dikenalkan dengan makanan bayi cair halus berbahan beras putih dan secara bertahap ditambah sayuran wortel atau ubi jalar merah dan protein hewani dari ayam.  Sedangkan untuk buahnya saya hanya memilih alpukat dan pisang.  Meski sayuran seperti kacang polong atau buah - buahan seperti apel dan pir dikatakan sudah boleh diberikan pada usia teresebut tapi saya tidak memilihkan sayuran dan buah - buahan tersebut pada putri saya.

2.  Bulan ke delapan sampai dengan sepuluh (8,9,10 bulan)
Bahan pangan yang dikenalkan di usia ini bertambah dengan beras merah, sayurannya bertambah dengan brokoli dan kembang kol, mulai dikenalkan juga protein nabati berupa kacang - kacangan, buah - buahannya saya tambah dengan pengenalan pepaya, sedangkan protein hewaninya saya tambah dengan ikan air tawar (saya pilih ikan gurame yang tebal dagingnya).  Meski protein hewani daging sapi dan telur ayam sudah dibolehkan pada usia ini tapi saya belum memberikannya pada putri saya.

3.  Bulan ke sepuluh sampai dengan duabelas (10,11,12 bulan)
Di usia ini saya semakin leluasa mengeksplorasi jenis - jenis bahan makanan, sayuran sampai labu siam dan terong ungu pun saya masukkan, protein hewaninya bertambah dengan telur dan daging sapi, buahnya bertambah dengan jus jeruk.

     Saya memberikan bahan makanan dengan jenis yang lebih terbatas karena saya menambahkan kriteria lain untuk pilihan jenis makanannya yakni lokal dan organik.  Mungkin sedikit berlebihan kekhawatiran saya tentang produk import.  Saya juga melakukan penundaan pemberian beberapa jenis protein hewani  seperti telur atau ikan laut (seafood) karena antisipasi (yang mungkin juga sedikit berlebihan) dari kemungkinan menyebabkan alergi. 

     Saya bersyukur selama periode enam bulan tahapan awal pengenalan makanan padat untuk putri saya, sayuran organik yang saya inginkan seperti wortel, brokoli, kembang kol sampai terong ungu supply nya konstan ke supermarket langganan saya, karena sekarang saya sulit menemukan jenis sayuran tersebut dengan label organik di kemasannya.

     Untuk beras putih dan beras merah dulu saya menggunakan produk 'Mentariku', adapun untuk kacang - kacangan saya  biasanya menggunakan yang sudah berbentuk tepung (pilihan saya tepung kacang hijau, kacang kedelai, kacang merah) produk 'Gasol',  sedang untuk sayurannnya saya dulu memakai produk 'Cisondari'.

     Mengenai jenis protein hewani, karena di supermarket tidak terdapat produk berlabel organik, saya memilih ayam kampung yang di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya banyak dijual dalam kondisi hidup, dipotong dan dibersihkan di depan pembeli.  Seorang famili mengatakan sekarang ini jarang ayam yang sepenuhnya organik, tapi setidaknya menurut seorang peternak biasanya ayam kampung yang sengaja diternakkan sekalipun hanya mendapat pakan produksi pabrik selama empat bulan pertama selanjutnya mendapat pakan alami.  Namun selama periode pemeliharaan ayam tersebut mungkin tetap mendapatkan obat - obatan.  Tapi yah, hanya itu pilihan yang ada, setidaknya masih agak 'mending' dibanding membeli ayam bukan ras (broiler).  Demikian pula dalam pemilihan ikan gurame, saya berusaha mencari yang alami meski sulit dan tidak selalu dapat.  Hmm...saya cuma bisa memaksimalkan ikhtiar.

     Catatan penting dalam pembuatan makanan bayi adalah saya tidak pernah menambahkan penambah rasa apapun jenisnya baik manis dari gula maupun asin dari garam.  Jadi anak saya hanya mengenal rasa asli makanan, manis dari wortel, gurih dari ayam atau ikan dan lain - lain.  Beberapa famili kelihatan 'kasihan' dengan putri saya yang makanannya tanpa rasa hehe....tapi saya yakin pilihan saya benar.

     Saya baru menambahkan rasa asin di umur ke tiga belas bulan karena saya tidak bisa menemukan unsalted cheddar cheese.  Karenanya mau tidak mau anak saya akhirnya untuk pertama kali mengenal rasa asin.

     Saya rasa pilihan makanan padat tanpa rasa di awal pengenalan makanan untuk putri saya justru memudahkan saya untuk tetap bisa menjejalkan makanan buatan rumah tanpa tambahan penyedap hingga sekarang.  Meski mungkin karena bosan ada beberapa makanana yang awalnya merupakan makanan favoritnya (seperti alpukat) sekarang dia sedang tidak doyan.  Tapi beberapa sayuran baru yang bagi sebagian anak lain mungkin sulit diterima (seperti oyong) dia malah suka.  Meski sekarang dia kadang memilih karena rasa bosan tapi masih banyak sayuran atau buah - buahan lain yang bisa menjadi alternatif untuk saya memberikan makanan bergizi baik untuknya.  Sekarang ini saya juga sudah tidak lagi membatasi keharusan organik untuk bahan makanan putri saya, asalakan dicuci bersih di air mengalir saya merasa sudah cukup 'aman'. 

Saturday, July 30, 2016

LAHAN SAWAH : INVESTASI 'TRADISIONAL' SEPANJANG MASA

Oleh : Resna Natamihardja

     Semula posting pertama dalam bahasan tentang pengelolaan keuangan keluarga saya rencanakan membahas investasi berbentuk produk keuangan.  Tapi ketika saya bermaksud menguraikan secara rinci beberapa hal ternyata harus saya lihat dari berkas - berkas yang sepertinya sudah tertumpuk di gudang.  Berkas berkas yang dulu saya baca sebelum saya minta persetujuan suami dan monthly report untuk ilustrasi cerita.  Jadinya saya memilih topik investasi dalam bentuk lahan sawah terlebih dahulu yang ceritanya hafal di luar kepala.

    
     Investasi sawah saat ini sudah jarang menjadi pilihan orang muda apalagi orang muda perkotaan.  Memiliki sawah adalah salah satu bentuk investasi yang dipilih orang - orang zaman dahulu bahkan sebelum kakek atau orangtua kita.  Padahal sebagaimana teruji sekian lama memiliki sawah  adalah salah satu bentuk investasi yang bisa menghasilkan keuntungan.  Bagi orang zaman dahulu memiliki sawah adalah simbol dari kemandirian pangan bagi sebuah rumah tangga.  Di sini saya akan membahas untung rugi investasi dalam bentuk lahan sawah dari sisi pemilik lahan sebagai investor. 

     Bersyukurlah jika kita mendapatkan secara cuma - cuma lahan sawah sebagai warisan.  Karena satu tahap investasi terlewati, yakni mempertimbangkan berbagai hal termasuk resiko sebelum membeli.

    Ada hal - hal yang harus diperhatikan dalam investasi berbentuk lahan sawah.  Hal tersebut diantaranya :


1. Status hukum sawah tersebut

Resiko terbesar investasi dalam bentuk lahan pertanian apapun termasuk sawah terdapat pada poin ini, yakni jika membeli sawah yang tidak jelas status kepemilikannya secara hukum. Jadi pastikan status kepemilikan lahannya sebelum membeli.  Akan jauh lebih baik membeli sawah yang sudah memiliki sertifikat hak milik.  Meski pada saat pembelian akan ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan segera untuk pembuatan akta dan balik nama sertifikat, tapi resikonya menjadi jauh lebih berkurang.

Namun jika memang pilihan yang ada adalah lahan sawah yang belum bersertifikat hak milik, pastikan ada sumber informasi terpercaya yang bisa memberikan informasi akurat tentang kejelasan status hukumnya dan segera lakukan proses jual belinya  menjadi akta jual beli melalui notaris atau jika camat setempat berstatus pejabat pembuat akta tanah sementara (PPATS)  akta jual beli bisa dilakukan di kecamatan (pastikan juga memilih orang yang memproses pembuatan akta ini adalah orang yang bisa dipercaya).

2.  Kesesuaian luas tanah.

Selain kejelasan status hukum, pastikan pula luas sawah senyatanya sesuai dengan dokumen kepemilikan tanah yang ada.

3. Lokasi/letak sawah

Lokasi sawah berkaitan dengan penentuan harga dan pengelolaan sawah nantinya.

a.  Ada atau tidaknya irigasi
Lahan sawah yang terletak di area yang terdapat saluran irigasi memungkinkan sawah diolah secara maksimal tiga kali masa tanam dalam satu tahun, sehingga akan memberikan pendapatan lebih banyak lagi bagi pemilik lahan jika menggunakan metode kemitraan bagi hasil.  Sawah yang berlokasi di area yang memiliki saluran irigasi teknis biasanya memiliki harga lebih tinggi daripada sawah yang hanya mengandalkan cuaca/musim untuk pengairannya (di daerah Jawa Barat sawah non irigasi dikenal dengan sebutan sawah guludug) yang biasanya hanya bisa diolah maksimal dua kali dalam satu tahun.

b.  Dekat atau tidaknya dengan lokasi permukiman
Lokasi sawah yang dekat dengan permukiman juga biasanya juga biasanya mempengaruhi harga sawah karena sawah yang terletak dekat dengan permukiman cenderung lebih 'aman' dari kemungkinan penjarahan.

c.  Dekat atau tidaknya dengan jalan raya
Untuk investasi jenis properti apapun, sudah menjadi kepastian harga tanah semakin dekat dengan jalan akan semakin mahal.

d.  Harga tanah setempat
Dan hal terakhir penentuan harga akan bisa dilihat dari harga tanah setempat.  Orang di kampung halaman saya biasa menyebut sawah yang terletak di area yang sama dengan kata 'sagagampar'.  Harga sawah di sebelah kanan - kiri bisa menjadi harga acuan pembelian sawah paling akurat.

4.  Ada tidaknya tenaga kerja

Ada hal menarik yang berkaitan dengan pertanian saat ini yakni masalah tenaga kerja.  Usia tenaga kerja di sektor pertanian semakin tua dan jarang anak muda usia produktif yang mau terjun menjadi tenaga kerja di bidang pertanian.  Rasanya ini juga harus menjadi hal yang harus dipertimbangkan dalam pembelian sawah, yakni keberadaan tenaga kerja yang akan menjadi mitra mengelola sawah yang kita miliki.

    Setelah melakukan proses jual beli dan menyelesaikan proses legalitasnya, sekarang kita tinggal menentukan bagaimana mendapatkan income dari sawah yang sudah dimiliki.

     Selain itu pastikan bahwa sawah yang akan kita beli tidak termasuk/berada dalam area yang sudah memiliki rencana alih fungsi baik untuk proyek pemerintah maupun swasta, karena sawah adalah investasi jangka panjang.

     Ada dua keuntungan yang kita dapat dari pembelian sawah yakni dari nilai aset yang selalu meningkat dari tahun ke tahun dan hasil dari pengelolaan sawah.  Keuntungan dari peningkatan nilai aset yang selalu meningkat dari tahun ke tahun dan hasil pengelolaan sawah.  Keuntungan dari peningkatan nilai aset akan di dapat ketika menjual aset tersebut.  Selisih harga ketika kita membeli dan menjualnya kembali akan menjadi keuntungan bagi kita.

     Sedangkan keuntungan dari pengelolaan sawah akan kita dapat tergantung dari cara yang kita pilih.  Ada dua cara yang bisa kita pilih.
Pertama,  kita bisa menyewakan sawah kita kepada orang lain dan mendapatkan penghasilan yang konstan dan pasti setiap tahun.
Kedua, dengan pola kemitraan bagi hasil, pendapatan kita akan tergantung hasil panen.  Setelah hasil panen dikurangi biaya - biaya seperti pupuk dan pertisida, hasil panen akan dibagi dua untuk penggarap dan pemilik lahan.  Hasil yang kita dapat menjadi fluktuatif tergantung keberhasilan panen.  
Jika tidak ingin direpotkan dengan pengawasan karena pola kemitraan ini menuntut tingkat kejujuran dari pihak penggarap, saran saya lebih mudah sawah yang kita miliki disewakan saja.  Dengan demikian akan diperoleh pendapatan di muka yang tetap dan pasti.

     Investasi sawah dikategorikan investasi yang bisa mendatangkan pendapatan dengan segera terutama dari pengelolaannya.  Bahkan jika menggunakan pola kemitraan bagi hasil pun, dalam jangka waktu empat bulan kita sudah mendapatkan  income.  Bagaimana tertarik dengan investasi berbentuk lahan sawah ?

Friday, July 15, 2016

MENJADI MANAJER RUMAH TANGGA

Oleh  :  Resna Natamihardja

      Sewaktu awal masa kuliah, pernah ada seorang dosen di tengah perkuliahan bertanya tentang cita - cita selepas kuliah.  Beliau berasumsi setiap orang yang memilih jurusan tentu karena punya cita - cita yang ingin dicapai dengan jalan kuliah di sana.  Dan saya yang sedikit melamun termasuk random sample nya.  Karena memang masuk jurusan manajemen by accident terutama atas arahan orang tua, terus terang saya belum punya bayangan ingin menjadi apa lulus kuliah nanti.  Akhirnya saya jawab asal, " Jadi manajer rumah tangga pak...".  Yang mengundang tawa rekan se ruangan dan senyum dosen yang bertanya.

     Alhamdulillah, sepertinya jawaban saya dicatat dan dikabulkan Yang Maha Kuasa, saya akhirnya berhasil menggapai cita - cita menjadi manajer rumah tangga.

     Selama menjalani status sebagai pengelola rumah tangga, saya adalah manajer segala urusan di rumah.  Sebagai manajer, saya mempunyai cukup keleluasaan dalam mengeksplorasi banyak hal.

     Meski menjadi mahasiswa jurusan manajemen karena diarahkan orang tua, dalam pengelolaan keuangan rumah tangga, apa yang saya dapat selama kuliah bisa memagari saya dalam mengambil keputusan, terutama keputusan yang berkaitan dengan perencanaan keuangan seperti menentukan prioritas keuangan, melakukan investasi, mengambil kredit dan lain - lain.

     Setelah menikah, keputusan melakukan investasi atau mengajukan kredit sekalipun nilainya kecil harus dengan persetujuan suami sebagai pemimpin rumah tangga.  Untuk mendapat persetujuan suami, saya biasanya harus 'ekspose' menjelaskan banyak segi tentang investasi atau kredit yang akan diambil.

     Di masa sekarang ini, jenis investasi untuk rumah tangga semakin banyak jenisnya, selain properti atau emas, ada produk keuangan seperti reksadana misalnya.  Sebelum melakukan presentasi di hadapan suami, saya biasanya melakukan 'studi pustaka' tentang jenis investasi tersebut (kebanyakan cukup dengan browsing di internet hehe...) lalu survey lapangan (tanya langsung ke pihak lembaga keuangan atau orang yang pernah melakukan sebelumnya tergantung jenis investasinya).  Alhamdulillah, dari sekian banyak investasi yang pernah dicoba tidak ada yang sampai mengalami kerugian.

     Demikian pula saat akan mengajukan kredit, selain harus dipastikan tujuan pengambilan kredit (yang pasti jangan sekali - kali mengambil kredit untuk kebutuhan konsumsi), harus dipertimbangkan jenis kredit yang diambil.   Ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil kredit.

     Beberapa pengalaman dalam mengelola keuangan rumah tangga yang akan menjadi cerita di Sub Chapter Finance ini.